Sabtu, 31 Desember 2016

2016

Dua ribu enam belas.
Membawa saya pada refleksi-refleksi dalam kedua tubuh manuskrip ini; membawa saya pada sebuah ruang yang tidak berada sekaligus ada di mana-mana, membawa saya pada sebuah jalan yang tidak sekaligus telah mengantar saya ke mana-mana, membawa saya pada suatu kehilangan, keheningan, keriuhan, memasukkan saya pada sebuah penjara yang senantiasa membebaskan, hasrat, zaman, stoik, skenik, skeptik, batu, kacamata, sejarah, rumput, kertas, udara, laut, dan diri saya di suatu hari tanpa suara, diri yang saya temui pada suatu kealpaan sebagai diri saya sendiri.
Dua ribu enam belas telah membawa saya ke manapun; yang tinggal dan meninggal, yang datang dan berpulang.

Terima kasih dan sampai jumpa.
Freak always,
Chendra.

Jumat, 16 Desember 2016

You Are Yourself, Not Anyone Else

Apa salahnya menjadi diri sendiri?

Di era millenium yang mengerikan, seseorang harus bertahan dengan cara yang hampir tidak mungkin untuk dilakukan: memahami, memiliki, dan menjadi diri sendiri.

Bagi seorang yang memiliki kepala hasil kemoterapi cetakan media (yang menjadi alat eksistensi kosong tanpa resistensi, kontemplasi, dan konsistensi), kenyataan adalah apa yang ditayangkan, kebenaran adalah apa yang dimasalkan, dan kelaziman adalah apa yang dipasarkan.

Orang-orang begitu saja melakukan sesuatu tanpa memegang esensi, mengubah diri sendiri menjadi orang lain, dan terlalu naif menerima kenyataan yang dipaparkan persoalan-persoalan dalam tayangan-tayangan tanpa penjelasan.

Orang-orang terlalu malu dan takut menjadi reformis yang dianggap merusak tatanan-tatanan yang telah ditetapkan untuk melangsungkan suatu tujuan: standarisasi persona masa kini, kapitalisasi peran, dan alienasi jati diri, untuk menjadi seseorang yang diinginkan televisi.

Maka orang-orang menjadi sibuk; menjadi seragam dan sama dengan yang orang-orang pikirkan, katakan, dan lakukan dengan konstelasi ciptaan pasar; mengilhami kutipan-kutipan sedih di buku-buku populer tentang hujan, kenangan, mantan, cinta tanpa tujuan, dan puisi-puisi transparan yang cengeng tentang kehilangan; menahbiskan diri sebagai seorang pemeran dalam film panjang bersubstansi dangkal dengan merelakan akal tanpa interpretasi lebih yang berulang-ulang disiarkan; mencitrakan diri sendiri sebagai suatu kebenaran yang mutlak di media dengan teks yang bahkan jauh dari konten dan konteks; mendandani diri dengan tren urban yang meninggikan gengsi lebih di atas fungsi, yang bahkan hanya bisa bertahan dalam hitungan bulan; meminjam kepala orang lain yang dijual di toko-toko digital; menenggelamkan diri dalam musik-musik yang berlari tanpa kaki, yang setelah letih, dengan begitu saja lekas berganti; dan memilih menjadi seperti yang orang lain katakan, bukan yang diri sendiri rasakan.

Orang-orang telah sibuk memahami, memiliki, dan menjadi orang lain, meski sebenarnya tidak pernah ada yang salah dengan memahami, memiliki, dan menjadi diri sendiri.

You are yourself, not anyone else.

Di sudut kamar, menjelang akhir 2016.

Selasa, 29 November 2016

Memento

Ingatan-ingatan yang kausebutkan satu demi satu serupa ruh tandas dari tubuh: toko musik beraroma hangus album foto, perpustakan yang tidak menyediakan awal dari sebuah cerita, jari-jari tangan kita yang tanggal digugurkan bau debur laut, dan jalan dalam perbaikan hari minggu yang lengang saat sengaja kita bangun lebih siang setelah tersesat semalaman dan tidak mengerti akhir dari sebuah mimpi ketika begitu saja kita terbangun oleh suara ketuk pintu di luar ambang jendela tubuhku yang menggenang seperti ingatan-ingatan yang kau- sebutkan satu demi satu serupa ruh tandas dari tubuh.

Sabtu, 25 Juni 2016

Musik dan Musim tak Terbaca

Langit berperang. Peran lama tahu siapa kan menang. Telah kita kalah sejak hari memilih untuk menjauh. Menjual perjanjian dan pergantian tuhan. Tahun-tahun menahan kata. Menunda kita.

Mataku terpenggal dan gentar meninggalkan kita semenjak gemetar dan geletar suaramu belum sempat terbaca. Pada musik dan musim tanpa tanda. Hujan tumbang dalam sisa do'a pagi yang tak lagi kita kan selesaikan.
Api. Api. Seperti dosa-dosa yang meminta berhenti disudahi.

Lalu perlahan aku menyaksikanmu mematikan api dan dirimu sendiri.

Minggu, 19 Juni 2016

Tak Ada Puisi Esok Hari

"Duduklah, aku ingin menghantuimu."
Kau tersenyum melipat-lipat mulutmu, kemudian mengirisnya dengan waktu.
Aku menggenggam sambil menilik perpisahan di tangan kirimu.
Terakhir kalinya biarkan dapur ini tertiup darah, dan tertutup ruang-ruang yang ada pada kepalamu, seperti bus yang meninggalkan seorang pelupa, restoran luka yang sering kau baca, dan rumah kecil yang wanginya menusuk seperti ingatan.
Lalu kulihat puisi pada punggungmu.
Membacanya, membuatku menjadi pisau yang bunuh diri, sebab aku lelah, berlari, tidur pada kata-kata, dan mencintaimu sama seperti hilang dalam diriku sendiri.
Sebab suatu hari saat kau mati, "Tak ada puisi esok hari."

Di Hari Minggu yang Tenang

Di hari libur, aku mengemasi ingatan-ingatanku dan menyimpannya pada kopor-kopor kusam kemudian kutanggalkan dibawah ranjang kamar; mereka terkadang dapat keluar memainkan permainan-permainan lama yang remeh dan mampir pada tidurku sebagai pisau, kursi yang nyaman, dan selimut. Lalu pada kopor lama akan kupilah lagi ingatan mana yang perlu dan tidak untuk kupakai. Selalu ada kau yang kubuang, dan kau yang kukenakan kembali. Juga kota, kamar, ibu bapak, serta ingatan lain. Seperti saat kau pernah membantuku mengemasi ingatan beberapa waktu yang lalu.

Rabu, 25 Mei 2016

Kepada Naoko

"Dan kematian adalah liburan panjang yang tak butuh kaurisaukan." katamu
Pikirku, barangkali memang begitu
Semua hal memiliki persoalan seperti perpustakaan dan rumah pegadaian
Kita meminjam tuhan kepada
Ibu, tanpa meminta, kita diberi sepi
Aku meminjam waktu, sebentar saja kataku
Kau memutuskan untuk lekas berlibur dan memilihku merawat yang hancur
Aku dan kau saling meminjami malam dan pelukan, tak sekalipun meminta
kau meminjamiku: diriku. Aku memilihku untuk mencintaimu
Kau memilih sunyi sebagai teman saat liburan
Kau memilihku untuk memelihara ingatan

Membatalkan Akta Kelahiran

Dan pijakku menjajak pada ruak tapak puruk yang membendung itu. Sebab telah kita sama-sama tahu: hilang kan datang, lentang kan pulang

Anjing dalam darah-darah surat terpenjara
Rasi hujan, musim bintang dalam ingatan Binatang!

Aku mencintaimu sebab tak ada alasan selain mencintaiku
Jalan menyekal bayangan
Ruang-ruang tentang dalam luka pada kahat kepala
Perjanjian yang tak pernah dibicarakan
Kahar yang menata dan menatah
Restoran kabar. Kantor muka
Nomor kematian, dan resep akta
Bahasa dan bahaya tak selesai menerka pinta dan cinta yang tak usai menerkam
Merekam foto keluarga yang tak pernah ada.
Rahasia membatalkan agama dalam sekolah-sekolah menengah dan menahan sekte norma-norma: gaham nama-nama kalam

Mencintaimu kemudian menjadi kata kerja yang telah lama menghapus dirinya. Bersiar dan merambang-rambang pagi yang tak berhasil dikenal
Tak berhenti dikenang
Berakhir digenang

Jumat, 22 April 2016

Membangkitkan Do'a

Tahun jatuh sepanjang hari dan musim bergelayut
−seperti tak pernah rontok dekat sebelum ini
Ditimangnya malam-malam agar tak menangis dan mengais-terserah
juga segala derai pinta yang renta

Ia lari kemana saja; mencari apapun yang dapat ia curi
Sebab kematian siap melacuri lungkup tubuhnya
maka ia bergegas lekas membangun sendiri matinya

Barangkali surga berletak di pelupuk mata
yang terhalang kutuk kantuk
yang tak hendak menyingkap singkat
kata-kata yang perlu dihapal untuk membawanya pulang
sebab pulang tak berarti apa jika tanpa tualang

Barangkali Tuhan berserak dan tercecer dimana-mana seperti dosa

Ia mengabur dan kabur dari kabar-kabar yang selama ini ia dengar,
mengenai tuhan mana yang berhak ia bela, juga cela;
tuhan warna-warni dengan setelan jas dan peci
tuhan dalam syair-syair virtual dan elektrik kesendirian
atau Tuhan dalam satu ingatannya
yang telah lama mati dan tercuri sunyi

Ia bangkit membaca apapun yang bisa ia cecap dan sesap
dan membawanya pulang: ia mengucap ayat-ayat
menyayat di nadinya. di mayatnya
Ia mati, dan membangkitkan lagi do’a-doa yang lama tak terjamah

Minggu, 17 April 2016

Bernafas Kematian

Kecuplah aku
Nafas-nafas lalu akan kehilangan hilangnya
Udara akan mengamuk dan merasuk
mengempas pada remuk rapuh paru-paruku
-hidup telah seketika menjauh

Bulan akan melumuri wajah kita menjadi api yang abadi
dan bibirmu kan semakin tersulut oleh sepi

Luka-luka muka kan murka dan terbuka
dan membenturkan tubuhnya pada nyawa-nyawa
yang menungguku setelah ini
Sebab kau menciumku berkali-kali

Maka kecuplah aku untuk mengingat hal-hal tak teringat
sebelum aku menjelma hampa pada malammu
juga angin yang mengoyak tengkuk, juga rambutmu

Mataku telah limbung
sebab cemara-cemara, dan hutan telah mengabur
dan mengubur kesunyian ke liang-liang kepala
Hanya kau kemudian yang dapat kusaksikan
: nafas derumu –aku dapat mengamatinya mengudara,
gigilmu, juga airmatamu yang selalu kutakutkan jatuh
Kecuplah aku, sekali lagi
Maka aku kan hilang dan bilang, kau tak akan bisa melupa sehabis ini
sebab aku akan terus hidup dalam puisi-puisi yang pernah kuberi

Maka bangkitkanlah aku berkali-kali

/Interpretasi Deathbed karya Bring Me the Horizon oleh Chendra dalam bentuk puisi dan lukisan yang berjudul: Bernafas Kematian./

The Book

In various kinds of death, I believe and relive
ones will live forevermore in many sick ways
I’m eternal and perpetuating ones with set them
on endless flames and scorch their dead body
as undying words. So that they live in other’s head,
in sempiternal ages and pages

She has been tortured in venomous slumber-flower
and I strive to revive her soul dragged back
live as a lonely drive
She, Allecia. Her demise
has became things I always wanted to bring

I’m alive, now!

Terjebak Kegelisahan

Pada sebuah ruang di lantai tiga, sepulang kerja
selalu kudengar ada puisi-puisi yang tertawa,
juga gemerlap dan gemericik gemetar bianglala meruap dari jendela
Lagu-lagu yang tak kutahu partiturnya berganti-ganti menjelma peristiwa, dan sebuah pementasan drama perlahan menyingkap tubuhnya
juga dencing runcing percakapan-percakapan yang fana seperti do’a, mengungkap dirinya

Aku selalu menggantung diriku dalam-dalam
pada sejumlah ketergantungan

Seorang perempuan belia berkepala tanya menegur dan menawarkan kepalanya, “Rupanya kita sedang menatap kamar yang sama.”
meski kutahu:
Tak ada kamar di sana,
juga tak ada perempuan muda hidup di sini

Sabtu, 16 April 2016

The Mystical

Then the sun has disappeared and unreachable
I appear myself, and the death spread it wings widely
And scream for helps, come over nicely

Bust and dust are being a words and world that I avoid the most
And the lost: well-spent of cost

There are good things falling to make me speak of the echoes
and the egos with the life’s decrees and dreams
The skies are breeding, and bleeding dropped these secrets
and I can’t hold the stars that burns inside my head

Then I just let me erase myself from the words through the night

Minggu, 10 April 2016

Menilik Rahasia Tetangga

/27/
Sore menjadi kabut yang tak pernah lingsir sebelumnya
Malam, tubuh-tubuhnya turun menjadi salju
Pada permukaan kebekuan pada sekat-sekat bertingkat, pada penat yang rekat di belikat

Kami menghening
Memantik tungku dan berselimut kepala masing-masing
Selimutku bergambar uang, miliknya bergambar bayi-bayi berenang
Kudengar tiga ketukan di dinding. Dari samping
datangnya: tetangga baru telah tiba

/29/
Sekat-sekat membatas-batasi rahasia-rahasia didalamnya
Aku masih tak pernah duduk pada pembicaraan, tanya dan jawaban, serta menyaksikan:
langit berdarah-darah, berjatuh, menggugurkan waktu-waktu silam
: tak pernah hidup subur dalam tingkat-tingkat yang mengarat dan mengerat

/2/
Kemudian rumah terbelah, kami duduk di ruang yang sama
Tak ada suara, meski kuyakin dia masih disana
Lalu piring-piring pecah terlempar kemana-mana, dari samping datangnya
disusul bahana teriak-teriakan dalam bahasa yang entah dan entah, dan termuntah ledak yang menyentak setelahnya

/3/
Kami menghening. Ruang semakin dingin, dan kulihat malam telah berganti di dinding kamar.
ada sesuatu. Kuputuskan memastikan rumah sebelah
Tak ada siapa-siapa ternyata

Pria-pria berseragam yang tetiba datang dan merasa punya urusan, menatap dan menangkapku dari belakang
Salah seorangnya meneriakkan mayat di sudut ruangku
Malam, tubuh-tubuhnya turun menjadi salju, luruhi kulai tubuh istriku

Sabtu, 09 April 2016

Kematian, Spektrum

Banyak yang akan minta dibicarakan ketika kematian menjadi pokok bahasan. Saya percaya, bahwa kematian adalah spektrum, yang ditempa dari banyak warna. Bagi seorang idealis, permasalahan, persoalan, dan hal-hal merumitkan lain yang harusnya diterima dan ditolak dengan jalan mengakhiri (lebih tepatnya saya meyakini bahwa masalah tidak pernah berakhir, tetapi dihantarkan waktu untuk menemui permulaan dari hal merumitkan lain), adalah warna-warna, yang sekaligus menjadi tempuhan untuk mencapai kematian itu sendiri, dengan cara sendiri-sendiri.

Bagi saya, kematian mendatangi dan terjadi setiap saat dalam hidup, secara berurutan, mulai dari setiap tahun, hingga setiap derik detik yang berlangsung. Kematian, merupakan suatu kepastian dan ketidakpastian secara bersamaan. Dan kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri, sebab yang pasti di realitas kehidupan di dunia adalah kematian, sekaligus hal itu bagi beberapa orang merupakan ketidakpastian terhadap kapan ia akan datang mempertemukan diri.

Kematian yang terjadi bahkan setiap detik maksud saya adalah, karena kesempatan untuk menyelesaikan (sama seperti akhiran, bagi saya tidak ada hal yang betul-betul selesai, melainkan merupakan suatu awalan yang baru) setiap tempuhan dalam tempaan warna-warna pada spektrum kematian, selalu hadir kapan saja. Karena, kematian saya yakini sebagai kelahiran kedua, maka manusia sepanjang hidupnya telah mengalami kelahiran kedua beribu-ribu bahkan berjuta-juta kali (mengingat setiap detik adalah kesempatan baru dalam hidup), oleh sebab itu juga, manusia berhak mati dan lahir kembali menjadi individu yang baru, bahkan yang berbeda sama sekali dari sebelumnya. Karena kematian merupakan keadaan yang hilang, kemudian menemukan dirinya sendiri berkali-kali.

Kematian sendiri bukan suatu stagnansi yang berlebih, dan (meskipun yang pasti di realitas kehidupan di dunia adalah kematian), ia sebenarnya tidak betul-betul hadir dalam ruang hidup secara nyata, melainkan bereksistensi dalam abstraksi batin manusia. Karena sekali lagi, bagi saya tidak ada manusia yang betul-betul mati, selain hanya mengalami kelahiran kembali, bahkan berjuta-juta kali. Maka kematian adalah spektrum yang menawarkan hal-hal baru untuk lahir, dan menemui spektrum-spektrum lain.

Selasa, 05 April 2016

Membicarakan Hal-Hal yang Telah Sama-Sama Kita Tahu

Kepada Augusta Byron:

Kau jalan panjang: tak ada yang lebih berhak selain hujan yang roboh menggelepar untuk menyusurimu.
Kau darahku.

Di awan yang sana: jauh dari yang jauh, dibawahnya mungkin telah berpasang-pasang berciuman, berpuluh saling membunuh, beribu dekam saling diam.
Aku darahmu.

Di pohon tekam yang sana: dekat dengan yang dekat, pernah kita sembunyi dan saling menemukan, telah kita sunyi dan ditemukan.

Kau jalan panjang:
Aku kan mati kehabisan kau.

Seorang Asing dan Beberapa yang Tak Kau Mengerti

Sehimpun rimbun jiwa lelaki yang kau saksirasukkan tenang senang memangkas jari-jarinya dengan aluran sungai yang menulang pada ulur sulur tubuhmu, berkali-kali telah kau bicarakan, juga beratus kali kurapalkan dan menancap pada akar kepalaku, sebagai doa agar yang kau ucap hanya hutan-hutan yang tak henti melempari langit dengan berhitam-hitam kepul asap agar menurunkan hantu-hantu malam yang menjelma hujan: ia menakutkan, juga menyenangkan.

Ku tahu kemudian kau dilahirkan oleh ibu: puisi dan ayah: musik yang abadi.
Kau warisi mata ibumu: Tak pernah bertemu huruf-huruf disana, bahkan kata, tapi didasarnya selalu aku ingin terdesak dalam kerelaan membaca segala puisi yang kutemui - Dalam jurang matamu barangkali aku ingin terjebak dan mati terhisap segala yang rimba. 
Kau miliki suara ayahmu: Setiap yang kau ucap adalah musik yang tak henti mengusir yang mengusik. Dan berkali-kali ingin aku kekal dalam ucap yang kau degupkan. Barangkali juga lelaki yang perlahan menjadi sepimu. Lelaki yang senang sekali lagi memangkas jari-jarinya dengan aluran sungai yang menulang pada ulur sulur tubuhmu. Lelaki yang bukan aku.

Senin, 21 Maret 2016

Repetisi

Pada suatu sore yang tak reda aku mendatangimu sebagai pertanyaan: kau menilik dan tak akan membicarakan suatu sore yang tak reda saat aku mendatangimu sebagai pertanyaan, "Adakah lebih tiga detik aku di sayu matamu?"
Pada suatu sore yang rebah aku tak akan meninggalkanmu sebagai kepastian: kau akan menulis mengenai hal-hal yang kau tangkap dan bukan sore yang rebah saat aku tidak meninggalkanmu sebagai kepastian, "Aku sepi, tapi tak berhenti."
Pada suatu sore yang rendah aku menghampirimu sebagai puisi: kau akan tak henti bergidik menahan kata dan tak menyadari ada suatu sore yang rendah saat aku menghampirimu sebagai puisi, "Kau bukan pembaca puisi. Kau pembaca sepi."

Jumat, 11 Maret 2016

Komposisi Rahasia Padamu

Akankah kita masih saling memandang dengan cara yang sama, saat telah terlempar nama-nama? Hanya saja kau buta, dan aku akan merasa baik-baik saja.

(Aku menjadi bahan pembicaraan dari tunggu.)

Akankah kita masih saling memendam tanya, saat telah kau ketahui segala yang rahasia?

(Aku menjadi bulan-bulanan waktu: ia dinanti atau menunggu tak henti.)

Banyak yang harus kita selesaikan.
Juga yang harus kita istirahatkan: tubuh, rindu, juga sebuah tunggu.
Ada yang sengaja harus kita buat abadi,
entah apa, entah siapa.
Entah pada titik mana kita akan saling menerima.
Entah kau tidak atau telah lama mengetahuinya.

Kau memiliki komposisimu sendiri sebagai rahasia, dan banyak hal tak terpecahkan lainnya: darah, mantra, dan ketidaktahuanku akan kata yang harusnya menyala.
Aku, tentu, akan lagi-lagi bertanya, akankah kita masih terus melanjurkan diri dalam hal-hal yang hampir tak pernah selesai ini?
Sebab ternyata kau buta, dan aku akan merasa baik-baik saja.

Kamis, 10 Maret 2016

Ruido de Lluvia Nata

Tak berapa lama baru saja menyadari: aku tidak sedang kemana-mana dan pasrah terdedas oleh yang tersia-sia. Aku hanya mengintip mimpimu melalui jendela kamar yang kau biarkan terbuka. Di hari gelap biasanya aku menjadi tamu rumahmu, yang tak pernah kau tahu datang perginya. Tak ada yang hidup pada jam-jam tidurmu, kecuali rinduku, yang membiru.
Di luar malam, mayat-mayat berlarian keluar kepalaku, mencari liang kuburnya masing-masing. Baunya mencekam, dan mendekam seusai memasuki diamku yang parau. Mereka tidak benar-benar mengerti kematian hanya jalan pulang, dan rindu hanya jalan untuk menemukan, juga meremukkan. Sedang hal-hal diam lain sengaja tinggal mengapar sebagai senapan yang siap diledakkan saat aku tak juga menyelesaikan takut-takut percuma yang tak puas meranggas.
Menderas. Mengeras.
Malam menggigil disini.
Rupanya di luar hujan sedang kencang-kencang menggerutu dan merindukanmu.

Kamis, 14 Januari 2016

Merayakan Tahun Baru

Pesta tahun baru telah cukup lama usai, dan penjual-penjual terompet telah kembali menjual yang tak dimiliki musim. Hanya saja beberapa terompet terlambat dibunyikan, dan orang-orang yang memiliki kalender berbeda dari orang biasa menyanyikannya sebagai musik, siang ini.

(ada sebuah lingkaran merah pada empat belas januari mereka, sebagai pemberangkatan selanjutnya menuju malam, sebagai tanda tahun baru telah tiba)

Memecahkan jantungmu, membakar telingamu, memeluk nyawamu. Kapan lagi tahun baru terjadi dua kali dalam sebulan ini?

Segera akhirilah.

Kamis, 07 Januari 2016

Belajar Menggambar

Kami hanya saling tahu; tak perlu saling memanggil.
Harusnya kami bisu, haruslah kami bisu.
Kami saling terluka; tak perlu saling terlupa.
Harusnya kami hilang, haruslah kami hilang.

Esok kudengar melalui awan, akan kering, esoknya basah, esok lagi akan melompat-lompat, sepagi lagi akan mendengar lagu-lagu yang kami saling suka, esoknya lagi akan berbicara, esok lagi tak ada esok: hanya ada luka yang kekal, seperti mengitari dan mencekik leher, seperti kau.
Berkali-kali aku menggambarmu dalam air, dalam genangan, yang tumbuh seperti dunia yang pelik, yang perihnya menggantung-gantung.
Tapi gambarmu bersembunyi dan berenang-renang ingin kukejar. Padahal telah kubilang, esok tidak akan ada esok, meski kau tak mendengarnya, sebab aku bicara sendirian.

Harusnya kami tuli, haruslah kami tuli.
Sebab kami saling berkata: tak perlu saling mendengar.

Jumat, 01 Januari 2016

Menyambut Manusia Baru

Maka kami menangis.
Maka kami menari.

Mari menggemuruh.
Sambil menyeduh dosa-dosa mencemaskan dan membahagiakan, mengutuk kantuk dan saling membunuh, berkelakar dengan yang terdiam, yang paling berisik.
Mari sekali lagi, mengembalikan yang mengkhawatirkanmu pada tempatnya, dan berubah rumah yang meniupkanmu terompet-terompet saat sunyi.

Maka kami terisak.
Maka kami terhisap.

Mari, bersama-sama, kita menyambut seutuhnya diri baru, dalam ketidakwarasan dan keburu-buruan yang menjadikan langit-langit malam terbakar dan meletup oleh tangisan, oleh tarian, oleh kata-kata yang paling meremukkan, paling menyenangkan, oleh laku yang mengembalikan kita menghampiri kesia-siaan.

Sebab itu, kami menghambur dan terpisah dengan hari-hari yang menelan pelan-pelan.
Sebab itu kami menjelma manusia baru, yang benci pesta-pesta tahun baru.