Kamis, 10 Maret 2016

Ruido de Lluvia Nata

Tak berapa lama baru saja menyadari: aku tidak sedang kemana-mana dan pasrah terdedas oleh yang tersia-sia. Aku hanya mengintip mimpimu melalui jendela kamar yang kau biarkan terbuka. Di hari gelap biasanya aku menjadi tamu rumahmu, yang tak pernah kau tahu datang perginya. Tak ada yang hidup pada jam-jam tidurmu, kecuali rinduku, yang membiru.
Di luar malam, mayat-mayat berlarian keluar kepalaku, mencari liang kuburnya masing-masing. Baunya mencekam, dan mendekam seusai memasuki diamku yang parau. Mereka tidak benar-benar mengerti kematian hanya jalan pulang, dan rindu hanya jalan untuk menemukan, juga meremukkan. Sedang hal-hal diam lain sengaja tinggal mengapar sebagai senapan yang siap diledakkan saat aku tak juga menyelesaikan takut-takut percuma yang tak puas meranggas.
Menderas. Mengeras.
Malam menggigil disini.
Rupanya di luar hujan sedang kencang-kencang menggerutu dan merindukanmu.

Tidak ada komentar: