Jumat, 22 April 2016

Membangkitkan Do'a

Tahun jatuh sepanjang hari dan musim bergelayut
−seperti tak pernah rontok dekat sebelum ini
Ditimangnya malam-malam agar tak menangis dan mengais-terserah
juga segala derai pinta yang renta

Ia lari kemana saja; mencari apapun yang dapat ia curi
Sebab kematian siap melacuri lungkup tubuhnya
maka ia bergegas lekas membangun sendiri matinya

Barangkali surga berletak di pelupuk mata
yang terhalang kutuk kantuk
yang tak hendak menyingkap singkat
kata-kata yang perlu dihapal untuk membawanya pulang
sebab pulang tak berarti apa jika tanpa tualang

Barangkali Tuhan berserak dan tercecer dimana-mana seperti dosa

Ia mengabur dan kabur dari kabar-kabar yang selama ini ia dengar,
mengenai tuhan mana yang berhak ia bela, juga cela;
tuhan warna-warni dengan setelan jas dan peci
tuhan dalam syair-syair virtual dan elektrik kesendirian
atau Tuhan dalam satu ingatannya
yang telah lama mati dan tercuri sunyi

Ia bangkit membaca apapun yang bisa ia cecap dan sesap
dan membawanya pulang: ia mengucap ayat-ayat
menyayat di nadinya. di mayatnya
Ia mati, dan membangkitkan lagi do’a-doa yang lama tak terjamah

Minggu, 17 April 2016

Bernafas Kematian

Kecuplah aku
Nafas-nafas lalu akan kehilangan hilangnya
Udara akan mengamuk dan merasuk
mengempas pada remuk rapuh paru-paruku
-hidup telah seketika menjauh

Bulan akan melumuri wajah kita menjadi api yang abadi
dan bibirmu kan semakin tersulut oleh sepi

Luka-luka muka kan murka dan terbuka
dan membenturkan tubuhnya pada nyawa-nyawa
yang menungguku setelah ini
Sebab kau menciumku berkali-kali

Maka kecuplah aku untuk mengingat hal-hal tak teringat
sebelum aku menjelma hampa pada malammu
juga angin yang mengoyak tengkuk, juga rambutmu

Mataku telah limbung
sebab cemara-cemara, dan hutan telah mengabur
dan mengubur kesunyian ke liang-liang kepala
Hanya kau kemudian yang dapat kusaksikan
: nafas derumu –aku dapat mengamatinya mengudara,
gigilmu, juga airmatamu yang selalu kutakutkan jatuh
Kecuplah aku, sekali lagi
Maka aku kan hilang dan bilang, kau tak akan bisa melupa sehabis ini
sebab aku akan terus hidup dalam puisi-puisi yang pernah kuberi

Maka bangkitkanlah aku berkali-kali

/Interpretasi Deathbed karya Bring Me the Horizon oleh Chendra dalam bentuk puisi dan lukisan yang berjudul: Bernafas Kematian./

The Book

In various kinds of death, I believe and relive
ones will live forevermore in many sick ways
I’m eternal and perpetuating ones with set them
on endless flames and scorch their dead body
as undying words. So that they live in other’s head,
in sempiternal ages and pages

She has been tortured in venomous slumber-flower
and I strive to revive her soul dragged back
live as a lonely drive
She, Allecia. Her demise
has became things I always wanted to bring

I’m alive, now!

Terjebak Kegelisahan

Pada sebuah ruang di lantai tiga, sepulang kerja
selalu kudengar ada puisi-puisi yang tertawa,
juga gemerlap dan gemericik gemetar bianglala meruap dari jendela
Lagu-lagu yang tak kutahu partiturnya berganti-ganti menjelma peristiwa, dan sebuah pementasan drama perlahan menyingkap tubuhnya
juga dencing runcing percakapan-percakapan yang fana seperti do’a, mengungkap dirinya

Aku selalu menggantung diriku dalam-dalam
pada sejumlah ketergantungan

Seorang perempuan belia berkepala tanya menegur dan menawarkan kepalanya, “Rupanya kita sedang menatap kamar yang sama.”
meski kutahu:
Tak ada kamar di sana,
juga tak ada perempuan muda hidup di sini

Sabtu, 16 April 2016

The Mystical

Then the sun has disappeared and unreachable
I appear myself, and the death spread it wings widely
And scream for helps, come over nicely

Bust and dust are being a words and world that I avoid the most
And the lost: well-spent of cost

There are good things falling to make me speak of the echoes
and the egos with the life’s decrees and dreams
The skies are breeding, and bleeding dropped these secrets
and I can’t hold the stars that burns inside my head

Then I just let me erase myself from the words through the night

Minggu, 10 April 2016

Menilik Rahasia Tetangga

/27/
Sore menjadi kabut yang tak pernah lingsir sebelumnya
Malam, tubuh-tubuhnya turun menjadi salju
Pada permukaan kebekuan pada sekat-sekat bertingkat, pada penat yang rekat di belikat

Kami menghening
Memantik tungku dan berselimut kepala masing-masing
Selimutku bergambar uang, miliknya bergambar bayi-bayi berenang
Kudengar tiga ketukan di dinding. Dari samping
datangnya: tetangga baru telah tiba

/29/
Sekat-sekat membatas-batasi rahasia-rahasia didalamnya
Aku masih tak pernah duduk pada pembicaraan, tanya dan jawaban, serta menyaksikan:
langit berdarah-darah, berjatuh, menggugurkan waktu-waktu silam
: tak pernah hidup subur dalam tingkat-tingkat yang mengarat dan mengerat

/2/
Kemudian rumah terbelah, kami duduk di ruang yang sama
Tak ada suara, meski kuyakin dia masih disana
Lalu piring-piring pecah terlempar kemana-mana, dari samping datangnya
disusul bahana teriak-teriakan dalam bahasa yang entah dan entah, dan termuntah ledak yang menyentak setelahnya

/3/
Kami menghening. Ruang semakin dingin, dan kulihat malam telah berganti di dinding kamar.
ada sesuatu. Kuputuskan memastikan rumah sebelah
Tak ada siapa-siapa ternyata

Pria-pria berseragam yang tetiba datang dan merasa punya urusan, menatap dan menangkapku dari belakang
Salah seorangnya meneriakkan mayat di sudut ruangku
Malam, tubuh-tubuhnya turun menjadi salju, luruhi kulai tubuh istriku

Sabtu, 09 April 2016

Kematian, Spektrum

Banyak yang akan minta dibicarakan ketika kematian menjadi pokok bahasan. Saya percaya, bahwa kematian adalah spektrum, yang ditempa dari banyak warna. Bagi seorang idealis, permasalahan, persoalan, dan hal-hal merumitkan lain yang harusnya diterima dan ditolak dengan jalan mengakhiri (lebih tepatnya saya meyakini bahwa masalah tidak pernah berakhir, tetapi dihantarkan waktu untuk menemui permulaan dari hal merumitkan lain), adalah warna-warna, yang sekaligus menjadi tempuhan untuk mencapai kematian itu sendiri, dengan cara sendiri-sendiri.

Bagi saya, kematian mendatangi dan terjadi setiap saat dalam hidup, secara berurutan, mulai dari setiap tahun, hingga setiap derik detik yang berlangsung. Kematian, merupakan suatu kepastian dan ketidakpastian secara bersamaan. Dan kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri, sebab yang pasti di realitas kehidupan di dunia adalah kematian, sekaligus hal itu bagi beberapa orang merupakan ketidakpastian terhadap kapan ia akan datang mempertemukan diri.

Kematian yang terjadi bahkan setiap detik maksud saya adalah, karena kesempatan untuk menyelesaikan (sama seperti akhiran, bagi saya tidak ada hal yang betul-betul selesai, melainkan merupakan suatu awalan yang baru) setiap tempuhan dalam tempaan warna-warna pada spektrum kematian, selalu hadir kapan saja. Karena, kematian saya yakini sebagai kelahiran kedua, maka manusia sepanjang hidupnya telah mengalami kelahiran kedua beribu-ribu bahkan berjuta-juta kali (mengingat setiap detik adalah kesempatan baru dalam hidup), oleh sebab itu juga, manusia berhak mati dan lahir kembali menjadi individu yang baru, bahkan yang berbeda sama sekali dari sebelumnya. Karena kematian merupakan keadaan yang hilang, kemudian menemukan dirinya sendiri berkali-kali.

Kematian sendiri bukan suatu stagnansi yang berlebih, dan (meskipun yang pasti di realitas kehidupan di dunia adalah kematian), ia sebenarnya tidak betul-betul hadir dalam ruang hidup secara nyata, melainkan bereksistensi dalam abstraksi batin manusia. Karena sekali lagi, bagi saya tidak ada manusia yang betul-betul mati, selain hanya mengalami kelahiran kembali, bahkan berjuta-juta kali. Maka kematian adalah spektrum yang menawarkan hal-hal baru untuk lahir, dan menemui spektrum-spektrum lain.

Selasa, 05 April 2016

Membicarakan Hal-Hal yang Telah Sama-Sama Kita Tahu

Kepada Augusta Byron:

Kau jalan panjang: tak ada yang lebih berhak selain hujan yang roboh menggelepar untuk menyusurimu.
Kau darahku.

Di awan yang sana: jauh dari yang jauh, dibawahnya mungkin telah berpasang-pasang berciuman, berpuluh saling membunuh, beribu dekam saling diam.
Aku darahmu.

Di pohon tekam yang sana: dekat dengan yang dekat, pernah kita sembunyi dan saling menemukan, telah kita sunyi dan ditemukan.

Kau jalan panjang:
Aku kan mati kehabisan kau.

Seorang Asing dan Beberapa yang Tak Kau Mengerti

Sehimpun rimbun jiwa lelaki yang kau saksirasukkan tenang senang memangkas jari-jarinya dengan aluran sungai yang menulang pada ulur sulur tubuhmu, berkali-kali telah kau bicarakan, juga beratus kali kurapalkan dan menancap pada akar kepalaku, sebagai doa agar yang kau ucap hanya hutan-hutan yang tak henti melempari langit dengan berhitam-hitam kepul asap agar menurunkan hantu-hantu malam yang menjelma hujan: ia menakutkan, juga menyenangkan.

Ku tahu kemudian kau dilahirkan oleh ibu: puisi dan ayah: musik yang abadi.
Kau warisi mata ibumu: Tak pernah bertemu huruf-huruf disana, bahkan kata, tapi didasarnya selalu aku ingin terdesak dalam kerelaan membaca segala puisi yang kutemui - Dalam jurang matamu barangkali aku ingin terjebak dan mati terhisap segala yang rimba. 
Kau miliki suara ayahmu: Setiap yang kau ucap adalah musik yang tak henti mengusir yang mengusik. Dan berkali-kali ingin aku kekal dalam ucap yang kau degupkan. Barangkali juga lelaki yang perlahan menjadi sepimu. Lelaki yang senang sekali lagi memangkas jari-jarinya dengan aluran sungai yang menulang pada ulur sulur tubuhmu. Lelaki yang bukan aku.