November tiba pelan dan perlahan dalam ketidaksengajaan, tidak tahu izin dan permisi, membuat manusia-manusia menyudahi kerelaannya terhadap hujan dan sisa-sisa sepeninggalnya. Hujan kemudian kembali mengatur sore Surabaya, dan memaksa kami belajar sekali lagi, merelakan yang telah, hampir, dan andai. Dalam hujan yang berani ini kami mulai menjelma rintik yang tersesak, menjadi diri yang tersesat. Kepadamu, lalu aku serukan, "Nikmatilah ketersesatan ini."