Sabtu, 03 Oktober 2015

Sebuah Terima Kasih dan Kemarin Sore yang Letih

Namaku adalah kemarin sore, menjadi angin yang ribut menjadi dingin, menjadi senyum dimatamu
Kelak kemudian menjadi tahun-tahun yang merah, dan kaki dimatamu, hidungmu, wajahmu
Ada saja, lagi, suatu bangun pagi yang tak pernah kusetujui, datang sebagai diriku sendiri
Menjadi wajahmu, tanganmu, senyum dan kakimu, dan bahumu, rambut putihmu
Kulitmu, keriputmu
Dan lahir kembali, seribu kali, satu juta kali
Menjadi terima kasih yang menyendiri
Untukmu saja
Ayah, ibu, kemudian aku setuju