Senin, 28 September 2015

Mengenang Kau Kembali, 21 Guns, dan Seorang Anak Kecil yang Tak Pernah Kulupa Namanya

Kelak kemudian ada satu bagian lagu yang akan kau lupa, bagian-bagian bagi kita yang memainkannya dalam ruang sesak napas yang bising. Ingatanmu adalah paku, dan yang kupukul-pukul sendiri dengan kaki dan kepalaku saat aku baru belajar memainkan drum. Kata-katamu lalu menjadi waktu, dan berusaha mengubahnya menjadi anak kecil yang tak mau lupa diriku: 21 Guns lalu berakhir menjadi cara terbaik untuk menjadi punk dalam versi kita masing-masing. Yang kulupa hanya bagaimana aku tak bisa berhenti menjadi pukulan yang kau inginkan: bagaimana aku mengubah diriku jadi dirimu. 
Dulu saat aku menangis yang kuinginkan hanya menghafal kata-kata sunyi yang tak pernah kauucapkan, menjadikannya lagu agar kau bisa bersembunyi saat suaraku tak berbunyi. Dan aku tumbuh jadi anak yang nakal, yang lupa Green Day kita telah terpenjara pada folder dalam laptopku, menghisap rokok yang kau jauhi, menjauhi diri sendiri. Kau semakin anak manja untuk kuajak pulang larut malam. Aku semakin mendekati kepalamu, lagu-lagu yang kita suka, hingga lupa untuk mengingat diri kita abadi dalam anak kecil beberapa tahun lalu, sore canggung yang membentakku untuk menjabat diri kita, mengingat diriku dalam tanganmu. Kurasa aku tak pernah senakal itu, barangkali yang memukul wajahmu saat aku memainkan Guitar Heroku adalah anak kecil yang masih kuingat hidup pada mataku. Akhirnya, kita masih saja menggunakan kata pis dan pang pada akhiran nama kita.
Kemudian waktu telah membuat kita jauh berbeda menjadi dewasa yang tak tau apa-apa, tak mengerti ada yang masih terjebak dalam badan. Adalah sepenggal lirik, dekat, namun tak pernah lagi menyanyikannya atau memukul-mukuli portal besi dan kayu atau memainkannya saat aku masih menyeimbangkan kaki dan tanganku. Barangkali masih ada nafas Billie Joe dalam kakiku. Bagaimana denganmu?