Kamis, 14 Januari 2016

Merayakan Tahun Baru

Pesta tahun baru telah cukup lama usai, dan penjual-penjual terompet telah kembali menjual yang tak dimiliki musim. Hanya saja beberapa terompet terlambat dibunyikan, dan orang-orang yang memiliki kalender berbeda dari orang biasa menyanyikannya sebagai musik, siang ini.

(ada sebuah lingkaran merah pada empat belas januari mereka, sebagai pemberangkatan selanjutnya menuju malam, sebagai tanda tahun baru telah tiba)

Memecahkan jantungmu, membakar telingamu, memeluk nyawamu. Kapan lagi tahun baru terjadi dua kali dalam sebulan ini?

Segera akhirilah.

Kamis, 07 Januari 2016

Belajar Menggambar

Kami hanya saling tahu; tak perlu saling memanggil.
Harusnya kami bisu, haruslah kami bisu.
Kami saling terluka; tak perlu saling terlupa.
Harusnya kami hilang, haruslah kami hilang.

Esok kudengar melalui awan, akan kering, esoknya basah, esok lagi akan melompat-lompat, sepagi lagi akan mendengar lagu-lagu yang kami saling suka, esoknya lagi akan berbicara, esok lagi tak ada esok: hanya ada luka yang kekal, seperti mengitari dan mencekik leher, seperti kau.
Berkali-kali aku menggambarmu dalam air, dalam genangan, yang tumbuh seperti dunia yang pelik, yang perihnya menggantung-gantung.
Tapi gambarmu bersembunyi dan berenang-renang ingin kukejar. Padahal telah kubilang, esok tidak akan ada esok, meski kau tak mendengarnya, sebab aku bicara sendirian.

Harusnya kami tuli, haruslah kami tuli.
Sebab kami saling berkata: tak perlu saling mendengar.

Jumat, 01 Januari 2016

Menyambut Manusia Baru

Maka kami menangis.
Maka kami menari.

Mari menggemuruh.
Sambil menyeduh dosa-dosa mencemaskan dan membahagiakan, mengutuk kantuk dan saling membunuh, berkelakar dengan yang terdiam, yang paling berisik.
Mari sekali lagi, mengembalikan yang mengkhawatirkanmu pada tempatnya, dan berubah rumah yang meniupkanmu terompet-terompet saat sunyi.

Maka kami terisak.
Maka kami terhisap.

Mari, bersama-sama, kita menyambut seutuhnya diri baru, dalam ketidakwarasan dan keburu-buruan yang menjadikan langit-langit malam terbakar dan meletup oleh tangisan, oleh tarian, oleh kata-kata yang paling meremukkan, paling menyenangkan, oleh laku yang mengembalikan kita menghampiri kesia-siaan.

Sebab itu, kami menghambur dan terpisah dengan hari-hari yang menelan pelan-pelan.
Sebab itu kami menjelma manusia baru, yang benci pesta-pesta tahun baru.