Sabtu, 02 September 2017

Aku Adalah Pembohong yang Tidak Dilahirkan untuk Berbicara

Sejak sajak bayi-bayi menikam yang tersembunyi dalam cahaya, aku adalah pembohong yang tidak dilahirkan untuk berbicara. Kau tidak hilang, aku tidak pernah menemukanmu. Tubuhku suara hening gagak yang menawarkan kesepian, kakiku derit tak bergerak, matamu jerit bisu yang memuncak.

Di sejauh koridor yang memanjangkan usia ketiadaan, kata-kata kita yakini sebagai ibu yang merawat bayi kasih sayang orang lain. Sepanjang itu kau menyetujui; langgam meregang genggam menabak do'a usang dengan jalan keraguan, ternyata ada akhir dalam bulan-bulan yang sakit, yang percaya, yang terpedaya, di sebuah jarak kau memandang langgas kelahiran meniti kata-kata baru untuk diimani.

Sejak memaling mata masing-masing kita, aku adalah pembohong yang tidak dilahirkan untuk berbicara. Aku tidak pernah mau barang sekali mampu mencintaimu.

Rati

Bayi itu menjawab malam
atau tak menjawab malam
tak dengan kata bapaknya, ibunya
—mereka batu dialiri deru kaku darah musim mati
dan telanjang dirajah mata dan do'a
yang tidak diajarkan tuhan
Tapi diingatnya sepanjang hening Selatan
sunyi menyaksikannya dari balik gelap;
debu berjalan lebih dekat,
pusaran mata maut menghadiri badai panjang
di tengkuknya, di kakinya, di rencana
di rahim yang baru dibangunkan
tahun untuk masa ibadah
ketika ada yang menjelma mati
dan mengaburkan sedikit-sedikit
bunyi ganti waktu di kepala,
warna yang lebih redup dari hidup
langkah sumpahnya yang tahu hendak ke mana
Ia ingin membunuh
dengan tidak membunuh
Tuhan membunuh untuknya
Kemudian ia tidak gila dan sering bertanya
siapa berhak meminang dosa

Audite, Vacante

I’m not living, I’m just killing time
Your tiny hands, your crazy-kitten smile*

Tak ada nyanyian. Kau mengucapkannya dalam satu tarikan panjang yang menghisap tanganmu selagi menyusun tangga berpijak, menyeberangkan sesuatu yang tak pernah bisa sampai dalam kata, dengan hal lain yang tercium pelukan. Bibirmu memahami diam. Aku mengucap-ucap kalimat terakhir yang seharusnya diucapkan dalam satu percakapan kita di sebuah lagu yang pendek. Kita tidak saling mengenal. Kemarin kudengar hari yang terlampau jauh, dan kubayangkan nyanyian lain memainkanku. Tapi suaramu tiba-tiba membuat wajahku menuju debu. Kau menggumam dan menyalakan dingin, hingga membakar dan yang terasa tersisa hanya ingatan bahwa aku sepertinya memang tidak pernah berada di mana-mana.

Just don’t leave
Don’t leave*

Tak pernah ada nyanyian. Yang kudengar ternyata bukanlah apa-apa. suatu hari aku berteriak dan tidak mendengar suara sendiri. seperti memang tak pernah kudengar bahwa di hari lain, kusadari hidup, tapi tak kulihat diri sendiri.

*potongan lirik yang diambil dari lagu True Love Waits, Radiohead