Selasa, 29 Desember 2015

Menarik Kesimpulan

Pria-pria jatuh cinta seperti waktu remuk yang menyusun dirinya sendiri, menjadi jam kemudian hari; tahun-tahun yang meremajakan diri, yang kian lama retak dan terberantak, sebab perempuan-perempuan mencintai seperti api yang terpungut satu persatu, menjelma duri mengais dan mengasih. Api dan waktu, keduanya saling terbakar dan lalu begitu saja: Keduanya saling hilang dan menemukan.

Senin, 21 Desember 2015

Seperti Malam

Seorang matahari dan seorang awan duduk berdua melewati diam, dan sunyi malam itu. Kata tak pernah seharusnya pergi, meninggalkan buih rintik rindu mereka. Kota, seperti yang terduga, menghilang dari mata, hati, indah, mata yang tak bicara. Maka luruhlah rindu itu sebenar-benarnya, sedalam-dalamnya.

Menderai seperti hujan, menderau seperti malam, menderas seperti puisi.

Adalah mereka yang tak pernah bisa melupakan waktu, yang tak pernah mampu hujan dan berlalu. Mereka pada kemudiannya tak mampu lekas lepas sunyi dan bersembunyi dalam diri mereka,
mereka adanya.

Menderai seperti hujan, menderau seperti malam, menderas seperti puisi.

***

Seperti Malam telah hadir dalam versi musik dengan judul Menderau. Dengarkan saya disini.

Pergi Masing-Masing

Aku lebih menghargai kematian setelah takut meninggalkan, ditinggalkan. Kematian kemudian telah mempermudah orang-orang untuk saling meninggalkan.

Dalam gelap, umpama. Malam hadir menjadi pelengkap perangkap yang cakap dan kelam mempermudah orang-orang untuk tidak saling menatap.

Kamis, 03 Desember 2015

Puisi Sepimu

Kepada sahabat kami, Maleek Jourdan AhmadSyah.

Tak masalah bila pagi ini kau tak jadi menjadi cerita pendek yang ia takuti. Lain kali menjadilah segaris puisi agar seseorang ingin membacanya, membacanya, dan berkali-kali mencintainya. Sebab kau hanya ditulis agar seseorang mengingat ketika lupa, sebab kau tak pernah sengaja terbaca.

Selasa, 10 November 2015

November pada Matamu

November tiba pelan dan perlahan dalam ketidaksengajaan, tidak tahu izin dan permisi, membuat manusia-manusia menyudahi kerelaannya terhadap hujan dan sisa-sisa sepeninggalnya. Hujan kemudian kembali mengatur sore Surabaya, dan memaksa kami belajar sekali lagi, merelakan yang telah, hampir, dan andai. Dalam hujan yang berani ini kami mulai menjelma rintik yang tersesak, menjadi diri yang tersesat. Kepadamu, lalu aku serukan, "Nikmatilah ketersesatan ini."

Sabtu, 03 Oktober 2015

Sebuah Terima Kasih dan Kemarin Sore yang Letih

Namaku adalah kemarin sore, menjadi angin yang ribut menjadi dingin, menjadi senyum dimatamu
Kelak kemudian menjadi tahun-tahun yang merah, dan kaki dimatamu, hidungmu, wajahmu
Ada saja, lagi, suatu bangun pagi yang tak pernah kusetujui, datang sebagai diriku sendiri
Menjadi wajahmu, tanganmu, senyum dan kakimu, dan bahumu, rambut putihmu
Kulitmu, keriputmu
Dan lahir kembali, seribu kali, satu juta kali
Menjadi terima kasih yang menyendiri
Untukmu saja
Ayah, ibu, kemudian aku setuju

Senin, 28 September 2015

Mengenang Kau Kembali, 21 Guns, dan Seorang Anak Kecil yang Tak Pernah Kulupa Namanya

Kelak kemudian ada satu bagian lagu yang akan kau lupa, bagian-bagian bagi kita yang memainkannya dalam ruang sesak napas yang bising. Ingatanmu adalah paku, dan yang kupukul-pukul sendiri dengan kaki dan kepalaku saat aku baru belajar memainkan drum. Kata-katamu lalu menjadi waktu, dan berusaha mengubahnya menjadi anak kecil yang tak mau lupa diriku: 21 Guns lalu berakhir menjadi cara terbaik untuk menjadi punk dalam versi kita masing-masing. Yang kulupa hanya bagaimana aku tak bisa berhenti menjadi pukulan yang kau inginkan: bagaimana aku mengubah diriku jadi dirimu. 
Dulu saat aku menangis yang kuinginkan hanya menghafal kata-kata sunyi yang tak pernah kauucapkan, menjadikannya lagu agar kau bisa bersembunyi saat suaraku tak berbunyi. Dan aku tumbuh jadi anak yang nakal, yang lupa Green Day kita telah terpenjara pada folder dalam laptopku, menghisap rokok yang kau jauhi, menjauhi diri sendiri. Kau semakin anak manja untuk kuajak pulang larut malam. Aku semakin mendekati kepalamu, lagu-lagu yang kita suka, hingga lupa untuk mengingat diri kita abadi dalam anak kecil beberapa tahun lalu, sore canggung yang membentakku untuk menjabat diri kita, mengingat diriku dalam tanganmu. Kurasa aku tak pernah senakal itu, barangkali yang memukul wajahmu saat aku memainkan Guitar Heroku adalah anak kecil yang masih kuingat hidup pada mataku. Akhirnya, kita masih saja menggunakan kata pis dan pang pada akhiran nama kita.
Kemudian waktu telah membuat kita jauh berbeda menjadi dewasa yang tak tau apa-apa, tak mengerti ada yang masih terjebak dalam badan. Adalah sepenggal lirik, dekat, namun tak pernah lagi menyanyikannya atau memukul-mukuli portal besi dan kayu atau memainkannya saat aku masih menyeimbangkan kaki dan tanganku. Barangkali masih ada nafas Billie Joe dalam kakiku. Bagaimana denganmu?