Pada suatu sore yang tak reda aku mendatangimu sebagai pertanyaan: kau menilik dan tak akan membicarakan suatu sore yang tak reda saat aku mendatangimu sebagai pertanyaan, "Adakah lebih tiga detik aku di sayu matamu?"
Pada suatu sore yang rebah aku tak akan meninggalkanmu sebagai kepastian: kau akan menulis mengenai hal-hal yang kau tangkap dan bukan sore yang rebah saat aku tidak meninggalkanmu sebagai kepastian, "Aku sepi, tapi tak berhenti."
Pada suatu sore yang rendah aku menghampirimu sebagai puisi: kau akan tak henti bergidik menahan kata dan tak menyadari ada suatu sore yang rendah saat aku menghampirimu sebagai puisi, "Kau bukan pembaca puisi. Kau pembaca sepi."
Senin, 21 Maret 2016
Repetisi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar