Selasa, 05 April 2016

Seorang Asing dan Beberapa yang Tak Kau Mengerti

Sehimpun rimbun jiwa lelaki yang kau saksirasukkan tenang senang memangkas jari-jarinya dengan aluran sungai yang menulang pada ulur sulur tubuhmu, berkali-kali telah kau bicarakan, juga beratus kali kurapalkan dan menancap pada akar kepalaku, sebagai doa agar yang kau ucap hanya hutan-hutan yang tak henti melempari langit dengan berhitam-hitam kepul asap agar menurunkan hantu-hantu malam yang menjelma hujan: ia menakutkan, juga menyenangkan.

Ku tahu kemudian kau dilahirkan oleh ibu: puisi dan ayah: musik yang abadi.
Kau warisi mata ibumu: Tak pernah bertemu huruf-huruf disana, bahkan kata, tapi didasarnya selalu aku ingin terdesak dalam kerelaan membaca segala puisi yang kutemui - Dalam jurang matamu barangkali aku ingin terjebak dan mati terhisap segala yang rimba. 
Kau miliki suara ayahmu: Setiap yang kau ucap adalah musik yang tak henti mengusir yang mengusik. Dan berkali-kali ingin aku kekal dalam ucap yang kau degupkan. Barangkali juga lelaki yang perlahan menjadi sepimu. Lelaki yang senang sekali lagi memangkas jari-jarinya dengan aluran sungai yang menulang pada ulur sulur tubuhmu. Lelaki yang bukan aku.

Tidak ada komentar: