Rabu, 18 Januari 2017

Dramaturgi

Pagi terbuka
jendela yang mengantarkan kekosongan itu
hampir terbangun dari udara sisa
kemenangan pada malam-malam sebelumnya

Kau dan aku belum sempat menyelesaikan sebuah roman
ketika seseorang bertubuh air bergerak membawa kalam dari kelam
memangkas kekecewaan kita
menyaput dinding dari genangan kata
yang sengaja tak dilalui seseorang
waktu hendak berpulang

Di belakang pintu kita menunggu
dan tubuh tetap berpura;
ini bukan tangan kita,
kaki, jantung, mimpi, darah, mani
limbung, perih, mata, ini bukan nama kita

Tapi seseorang itu hanya terluka
ketika serdadu bercerita
bagaimana mendidihkan tepi airmata
dengan ikrar senapan tanpa ledakan
kita tidak memahami
siapa yang terbunuh
dalam perang yang menawan itu
Malam tertusuk jantung yang menandai satu kelahiran;
apakah puisi akan seperti seorang perawan yang menyambut mati
dan hikayat hanya pesan pembangkit mayat
sedang di luar tubuh kita
kau dan aku menunggu kembali bertemu
tapi tidak di sini
ini bukan rumah kita
ini bahkan duka kita
namun tubuh masih mengada
ini bukan tangan kita,
kaki, jantung, mimpi, darah, mani
limbung, perih, mata, ini bukan nama kita

Di malam yang sama
di muka pagar yang menjauhi gelap
seorang penari berhati-hati
menolehkan nyawa
dan menggeretak kepayahannya
mencari gerak yang tertabrak
dengan asam ketiak
yang dipinjam dari kekekalan suatu peninggalan

Di malam yang sama
mungkin kata yang berpencar
hanya menghadirkan tamu persajian
dari kota yang bergelombang pasang
sebab tak ada utara dan selatan
timur hanya terpendam di suatu lubang galian
barat hanya tak pernah lupa
membatasi diri dari sela perigi

Dari mata tamu yang terpaku;
yang ada hanya kita
tak peduli siapa lahir, siapa mati
atau lari hari ini pergi
siapa berteriak dari tangannya
mangkir dari kaki
atau tidur dari kepalanya

Masih banyak yang memelihara sedih
dan remukan tulang yang terjaga
dalam kain pemberian do'a
seorang bertubuh air
yang pergi menyendiri

Serdadu yang berpulang
mengemas batu untuk persetubuhan
menggamit bongkah napas senapan
yang menghunus nyawa penawan

di akhir genggaman
salam telah menghardik
rindu telah mencekik

Kita tak bisa hanya berpura
sedang esok telah tiba lagi hari untuk disesali
selamanya
selama kita tak akan pergi

Tapi ini terlebih lama
dari mengatakan pembunuhan
pada seorang kawan
ini terlalu panjang
dari menghadiri pemakaman
seorang bayi yang terpenggal

Bisa, kita, diam dan memanggul sepi
sepanjang mati?
tapi, katamu, ini rumah milik suka
pada hari kelahiran kita

2017


Freak always,

Chendra

Tidak ada komentar: