Sabtu, 25 Juni 2016

Musik dan Musim tak Terbaca

Langit berperang. Peran lama tahu siapa kan menang. Telah kita kalah sejak hari memilih untuk menjauh. Menjual perjanjian dan pergantian tuhan. Tahun-tahun menahan kata. Menunda kita.

Mataku terpenggal dan gentar meninggalkan kita semenjak gemetar dan geletar suaramu belum sempat terbaca. Pada musik dan musim tanpa tanda. Hujan tumbang dalam sisa do'a pagi yang tak lagi kita kan selesaikan.
Api. Api. Seperti dosa-dosa yang meminta berhenti disudahi.

Lalu perlahan aku menyaksikanmu mematikan api dan dirimu sendiri.

Minggu, 19 Juni 2016

Tak Ada Puisi Esok Hari

"Duduklah, aku ingin menghantuimu."
Kau tersenyum melipat-lipat mulutmu, kemudian mengirisnya dengan waktu.
Aku menggenggam sambil menilik perpisahan di tangan kirimu.
Terakhir kalinya biarkan dapur ini tertiup darah, dan tertutup ruang-ruang yang ada pada kepalamu, seperti bus yang meninggalkan seorang pelupa, restoran luka yang sering kau baca, dan rumah kecil yang wanginya menusuk seperti ingatan.
Lalu kulihat puisi pada punggungmu.
Membacanya, membuatku menjadi pisau yang bunuh diri, sebab aku lelah, berlari, tidur pada kata-kata, dan mencintaimu sama seperti hilang dalam diriku sendiri.
Sebab suatu hari saat kau mati, "Tak ada puisi esok hari."

Di Hari Minggu yang Tenang

Di hari libur, aku mengemasi ingatan-ingatanku dan menyimpannya pada kopor-kopor kusam kemudian kutanggalkan dibawah ranjang kamar; mereka terkadang dapat keluar memainkan permainan-permainan lama yang remeh dan mampir pada tidurku sebagai pisau, kursi yang nyaman, dan selimut. Lalu pada kopor lama akan kupilah lagi ingatan mana yang perlu dan tidak untuk kupakai. Selalu ada kau yang kubuang, dan kau yang kukenakan kembali. Juga kota, kamar, ibu bapak, serta ingatan lain. Seperti saat kau pernah membantuku mengemasi ingatan beberapa waktu yang lalu.