"Duduklah, aku ingin menghantuimu."
Kau tersenyum melipat-lipat mulutmu, kemudian mengirisnya dengan waktu.
Aku menggenggam sambil menilik perpisahan di tangan kirimu.
Terakhir kalinya biarkan dapur ini tertiup darah, dan tertutup ruang-ruang yang ada pada kepalamu, seperti bus yang meninggalkan seorang pelupa, restoran luka yang sering kau baca, dan rumah kecil yang wanginya menusuk seperti ingatan.
Lalu kulihat puisi pada punggungmu.
Membacanya, membuatku menjadi pisau yang bunuh diri, sebab aku lelah, berlari, tidur pada kata-kata, dan mencintaimu sama seperti hilang dalam diriku sendiri.
Sebab suatu hari saat kau mati, "Tak ada puisi esok hari."
Minggu, 19 Juni 2016
Tak Ada Puisi Esok Hari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar