Minggu, 10 April 2016

Menilik Rahasia Tetangga

/27/
Sore menjadi kabut yang tak pernah lingsir sebelumnya
Malam, tubuh-tubuhnya turun menjadi salju
Pada permukaan kebekuan pada sekat-sekat bertingkat, pada penat yang rekat di belikat

Kami menghening
Memantik tungku dan berselimut kepala masing-masing
Selimutku bergambar uang, miliknya bergambar bayi-bayi berenang
Kudengar tiga ketukan di dinding. Dari samping
datangnya: tetangga baru telah tiba

/29/
Sekat-sekat membatas-batasi rahasia-rahasia didalamnya
Aku masih tak pernah duduk pada pembicaraan, tanya dan jawaban, serta menyaksikan:
langit berdarah-darah, berjatuh, menggugurkan waktu-waktu silam
: tak pernah hidup subur dalam tingkat-tingkat yang mengarat dan mengerat

/2/
Kemudian rumah terbelah, kami duduk di ruang yang sama
Tak ada suara, meski kuyakin dia masih disana
Lalu piring-piring pecah terlempar kemana-mana, dari samping datangnya
disusul bahana teriak-teriakan dalam bahasa yang entah dan entah, dan termuntah ledak yang menyentak setelahnya

/3/
Kami menghening. Ruang semakin dingin, dan kulihat malam telah berganti di dinding kamar.
ada sesuatu. Kuputuskan memastikan rumah sebelah
Tak ada siapa-siapa ternyata

Pria-pria berseragam yang tetiba datang dan merasa punya urusan, menatap dan menangkapku dari belakang
Salah seorangnya meneriakkan mayat di sudut ruangku
Malam, tubuh-tubuhnya turun menjadi salju, luruhi kulai tubuh istriku

Tidak ada komentar: