Kami hanya saling tahu; tak perlu saling memanggil.
Harusnya kami bisu, haruslah kami bisu.
Kami saling terluka; tak perlu saling terlupa.
Harusnya kami hilang, haruslah kami hilang.
Esok kudengar melalui awan, akan kering, esoknya basah, esok lagi akan melompat-lompat, sepagi lagi akan mendengar lagu-lagu yang kami saling suka, esoknya lagi akan berbicara, esok lagi tak ada esok: hanya ada luka yang kekal, seperti mengitari dan mencekik leher, seperti kau.
Berkali-kali aku menggambarmu dalam air, dalam genangan, yang tumbuh seperti dunia yang pelik, yang perihnya menggantung-gantung.
Tapi gambarmu bersembunyi dan berenang-renang ingin kukejar. Padahal telah kubilang, esok tidak akan ada esok, meski kau tak mendengarnya, sebab aku bicara sendirian.
Harusnya kami tuli, haruslah kami tuli.
Sebab kami saling berkata: tak perlu saling mendengar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar