Rabu, 26 Juli 2017

Ternyata Kota Ini Punya Akar

Ternyata kota ini punya akar. Kau bermimpi, dari mana jatuhnya perintah untuk membaca tafsir bahasa Ibu sebelum ibu menamainya pintu, untuk menjauh dari yang tak boleh disentuh dalam tidurmu. Akar itu memerah saat cuaca menjadi biru gelap. Matamu memiliki keberanian untuk membakarnya, hingga yang tersisa hanyalah sesuatu yang menunggunya dari balik punggung api itu. Kelabu menjadi warna langit terakhir sebelum laut memutuskan untuk meninggalkan perairan. Kota menanggalkan daun-daun, melayang-layang sebelum iklim diubahnya menjadi kuning, hijau, bahkan warna-warna matamu sebelum kau sekali lagi mengingat-ingat namaku. Ibu tak pernah menamaiku. Orang-orang hanya memanggilku seperti aku salah satu tubuh mati yang lahir dari pantai sunyi, jauh dari pelukan kota kita.

Ternyata kota ini punya akar. Kau membangun batas, dinding yang menjauhkan matamu, dari dirimu sendiri. Akar-akar itu menjalar melalui telingamu, menjaga dinding itu agar hidup tetap seperti dengusan metafora yang begitu mengenal panjang, menjerat rindu yang dipelihara bibirmu sejak ia kanak-kanak dan menjauhkannya dari sekolah agar tak ia mengerti bagaimana jalan pemberontakan setelah tubuhnya tertangkap dewasa, memasuki lorong-lorong hidungmu, menghapus alismu. Aku menggaruk gatal di punggungku dengan kuas yang menghidupkan kedua alis itu. Tak pernah kulihat mereka seteguh ceruk yang dirindangi suluran akar-akar jatuh yang hilang dan tersesat. Yang kupercaya hanya jika kau tak pernah merindukanku.

Ternyata kota ini punya akar. Lekuk-lekuknya menghubungkan antara yang tak pernah ada, dan yang selalu merasa tak pernah ada. Setiap beberapa waktu sekali, aku tiba-tiba menghafalkan jalan menuju matamu. Tapi kota ini bukan pohon. Kota ini hanya gerimis yang diciptakan ungkapan-ungkapan dan kata seandainya. Aku tidak pernah takut untuk tersesat, aku hanya takut jika tak pernah sampai pada tubuhmu. Seandainya, kota ini tak pernah ada.

Tidak ada komentar: