"1. Wong jamannya sudah jaman crazy, yang salah sudah bisa bikin kurikulum baru agar menjadi benar dan mendapatkan sertifikasi halal untuk dapat menjustifikasi yang lain. Dapat menentukan mana yang dosa, mana yang beriman. Mana yang bodoh, mana yang lebih bodoh. Ndak ada yang namanya orang pintar. Pintar matematika, tapi kalau ndak bisa ketawa tiap lihat muka sendiri kan ya percuma. Pandai bermain musik, tapi kalau ada adzan masih berisik kan ya untuk apa. Cekatan dalam mengatasi masalah sendiri, tapi menghasilkan masalah buat sesamanya, ya juga sia-sia. 2. Andai saja ilmu pengetahuan tidak sebegini merepotkan, maka nasi pecel di warung barangkali masih 500 rupiah saja per porsinya aduhai sehari bisa cuma keluar duit 2000 rupiah, sisanya ditabung buat modal bikin kos-kosan dan pabrik mie lidi. Lha wong lihat saja, naga dragon juga sudah ikut parkir di parkiran para petinggi negara. Ada yang bawa horse. Beberapa pekerjaan juga mulai dikhususkan untuk babi hutan dan pinguin, kadang juga laba-laba dan untuk dia-dia yang tidak butuh dosa. Kurikulum vitai kan seharusnya juga tidak dipentingkan dalam pekerjaan membunuh kemanusiaan. 3. Kemudian perlu diperhatikan bahwa ini adalah ucapan subversif. Tolong tangkap saya. Saya ingin dianggap kiri, tapi saya belum pernah demo. Bagaimana ya kalau begitu. Saya juga belum pernah teriak-teriak puitis pakai toa sambil menyerukan bahwa baca buku itu malah diburu, padahal ini 2017, dan pak presiden belum menjabat selama berpuluh-puluh tahun, juga belum ada gejala untuk melakukannya. Saya ingin dianggap kritis, tapi ndak punya banyak buku. Saya ingin dianggap kiri, tapi saya bukan orang kidal. Saya sedih. 😢😢😢" ucap Buday tersedu-sedu, ketika ibu guru TK 02 Pagi bertanya apa cita-cita yang ia pilih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar